<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/css" href="/css/feed.css"?>
<rss xmlns:googleplay="http://www.google.com/schemas/play-podcasts/1.0" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0">
<channel>
<title>EKSPLORASI PANGAN LOKAL</title>
<link>//podcastplus.net/feed/podcast~329d171729ecb600228b91da7cbb83ad567d7c3d5e87c13d0146b89b9344c6b5</link>
<description>Pandemi Covid-19 ternyata bukan hanya berdampak pada kesehatan, tapi juga terhadap ancaman krisis pangan. Bahkan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO/Food and Agriculture Organitation) juga telah mengingatkan sinyal ancaman ketersediaan pangan tersebut.Guna mengantisipasi terjadi krisis pangan, pemerintah melalui Ibu Presiden RI telah mencanangkan Gerakan Diversifikasi Pangan Lokal, Juli lalu. Gerakan tersebut sebagai upaya untuk mendorong ketersediaan dan konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman.Kepala Badan Ketahanan Pangan mengatakan, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian telah menyusun Road Map Diversifikasi Karbohidrat Pengganti Beras 2020-2024 yang terintegrasi dari hulu sampai hilir. Berbagai kegiatan meliputi produksi, pasca panen, stok, pengolahan dan pemasaran hingga pemanfaatan berupa edukasi ke masyarakat.“Dengan kegiatan itu kami harapkan,preferensi masyarakat terhadap pangan lokal meningkat,” katanya saat Webinar Diversifikasi Pangan Lokal Untuk Ketahanan Pangan yang diselenggarakan Kementerian Pertanian RI bekerjasama dengan The Indonesia Green Financial and Investment Institute (TIGFII) dan didukung Bank BRI di Jakarta, beberapa waktu lalu.Pandemi Covid-19 ternyata bukan hanya berdampak pada kesehatan, tapi juga terhadap ancaman krisis pangan. Bahkan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO/Food and Agriculture Organitation) juga telah mengingatkan sinyal ancaman ketersediaan pangan tersebut.Guna mengantisipasi terjadi krisis pangan, pemerintah melalui Ibu Presiden RI telah mencanangkan Gerakan Diversifikasi Pangan Lokal, Juli lalu. Gerakan tersebut sebagai upaya untuk mendorong ketersediaan dan konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman.Kepala Badan Ketahanan Pangan, Agung Hendriadi mengatakan, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian telah menyusun Road Map Diversifikasi Karbohidrat Pengganti Beras 2020-2024 yang terintegrasi dari hulu sampai hilir. Berbagai kegiatan meliputi produksi, pasca panen, stok, pengolahan dan pemasaran hingga pemanfaatan berupa edukasi ke masyarakat.“Dengan kegiatan itu kami harapkan,preferensi masyarakat terhadap pangan lokal meningkat,” katanya saat Webinar Diversifikasi Pangan Lokal Untuk Ketahanan Pangan yang diselenggarakan Kementerian Pertanian RI bekerjasama dengan The Indonesia Green Financial and Investment Institute (TIGFII) dan didukung Bank BRI di Jakarta, beberapa waktu lalu.</description>
<pubDate>Sat, 08 Aug 2026 08:38:46 +0000</pubDate>
<item>
<title>Diversifikasi Pangan "Biasakan makan beragam mulai dari keluarga</title>
<link>https://media.rss.com/sinta-tv/20211014_125546_4969d999f2793e24f81674558fa42a7a.mp3</link>
<description>    TABLOIDSINARTANI.COM  , Jakarta--- Pola konsumsi masyarakat Indonesia saat ini masih didominasi satu komoditas yakni beras. Bahkan terjadi pergeseran ke produk terigu dan turunan. Kombinasi beras dan terigu tersebut hampir terjadi di seluruh Tanah Air.    Kondisi tersebut jika dibiarkan, maka akan menjadi masalah besar dalam mewujudkan kemandirian pangan. Ibaratnya, kini terjadi perang antara pangan lokal dengan pangan berbahan baku impor. Namun perlu strategi jitu dari pangan lokal untuk memenangkan perang tersebut.   “Upaya percepatan diversifikasi pangan harus digencarkan dengan meningkatkan produksi dan mendorong pertumbuhan konsumsi pangan lokal,” kata Kepala Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian Sarwo Edhy di Jakarta, Kamis (14/10).   Saat Talk Show Diversifikasi Pangan Lokal, Biasakan Makan Beragam dari Keluarga yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani bersama Badan Ketahanan Pangan, Sarwo mengatakan, pekerjaan rumah (PR)-nya saat ini adalah menggerakkan UMKM hilir untuk memproduksi pang...</description>
<pubDate>Thu, 14 Oct 2021 12:58:19 +0000</pubDate>
<guid>https://media.rss.com/sinta-tv/20211014_125546_4969d999f2793e24f81674558fa42a7a.mp3</guid>
<enclosure url="https://media.rss.com/sinta-tv/20211014_125546_4969d999f2793e24f81674558fa42a7a.mp3" type="audio/mpeg" length="1"/>
</item>
<item>
<title>Diversifikasi Pangan "Biasakan makan beragam mulai dari keluarga</title>
<link>https://media.rss.com/sinta-tv/20211014_125546_4969d999f2793e24f81674558fa42a7a.mp3</link>
<description>    TABLOIDSINARTANI.COM  , Jakarta--- Pola konsumsi masyarakat Indonesia saat ini masih didominasi satu komoditas yakni beras. Bahkan terjadi pergeseran ke produk terigu dan turunan. Kombinasi beras dan terigu tersebut hampir terjadi di seluruh Tanah Air.    Kondisi tersebut jika dibiarkan, maka akan menjadi masalah besar dalam mewujudkan kemandirian pangan. Ibaratnya, kini terjadi perang antara pangan lokal dengan pangan berbahan baku impor. Namun perlu strategi jitu dari pangan lokal untuk memenangkan perang tersebut.   “Upaya percepatan diversifikasi pangan harus digencarkan dengan meningkatkan produksi dan mendorong pertumbuhan konsumsi pangan lokal,” kata Kepala Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian Sarwo Edhy di Jakarta, Kamis (14/10).   Saat Talk Show Diversifikasi Pangan Lokal, Biasakan Makan Beragam dari Keluarga yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani bersama Badan Ketahanan Pangan, Sarwo mengatakan, pekerjaan rumah (PR)-nya saat ini adalah menggerakkan UMKM hilir untuk memproduksi pang...</description>
<pubDate>Thu, 14 Oct 2021 12:58:19 +0000</pubDate>
<guid>https://media.rss.com/sinta-tv/20211014_125546_4969d999f2793e24f81674558fa42a7a.mp3</guid>
<enclosure url="https://media.rss.com/sinta-tv/20211014_125546_4969d999f2793e24f81674558fa42a7a.mp3" type="audio/mpeg" length="1"/>
</item>
</channel>
</rss>
